Kamis, 18 September 2014

Input Bagus, Insya Allah Output Bagus

Bersama 5.772 maba UMY 2014, hayo tebak gue yang mana?

Assalamualaikum teman-teman, ada disini yang sekarang berstatus maba alias mahasiswa baru? Kalo iya berarti kita sama. Perkenalkan nama saya Yusuf Harfi, kini tercatat sebagai mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) prodi Ilmu Komunikasi. 

Masa transisi dari masa SMA ke dunia perkuliahan baru saja saya akhiri, setelah kurang lebih 4 bulan menyandang status pengangguran akhirnya saya menemukan tempat perlabuhan selanjutnya setelah meninggalkan dunia SMA. Ada sedikit catatan yang ingin saya bagi bersama temen-temen terlebih buat temen-temen yang juga sedang menyandang status maba dan juga temen-temen yang sekarang masih duduk di bangku kelas 3 SMA.

Bukan perkara mudah masuk dunia perkuliahan, sangat tidak mudah malahan. Pengorbanan waktu, pikiran, dan tentunya finansial adalah hal yang sangat penting guna mewujudkan impian kita masuk kuliah. Namun yang terpenting dari semua itu, sudah punya tujuan kan kita mau kuliah dimana? Ambil jurusan apa? Sebuah pertanyaan klasik yang saya yakin sudah akrab di telinga anak-anak SMA yang kini duduk di bangku kelas 3. Berikut sedikit flashback perjuangan saya hingga menemukan tempat berlabuh di UMY.

Kalo ditanya soal mau kuliah dimana, jurusan apa saya selalu menjawab, “pengen di ilkom UGM pak”, “pengen di ilkom UGM bu” atau , ”pengen di ilkom UGM bro”. Dari awal saya memang sudah mengunci target saya untuk bisa kuliah di jurusan ilmu komunikasi ditambah dengan embel-embel UGM di belakangnya. Hehe. Perguruan tinggi negeri memang masih menjadi primadona disini, masyarakat Jogja dan sekitarnya. Dulu, saat awal-awal duduk di kelas 3 SMA kebanyakan dari temen saya  kalo ditanya pengen kuliah dimana hampir 90% pasti kalo nggak jawab UGM ya UNY. Sampai-sampai ada yang nyebut UGM sama UNY ini universitas sejuta umat katanya.

Oke itu baru sebatas cita-cita, yang patut diperjuangkan tentunya. Banyak jalan menuju Roma, banyak jalur yang bisa kita tempuh untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Setidaknya saya mencatat ada 3-4 jalur untuk menembus perguruan tinggi negeri. Jalur pertama, jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Dengan jalur ini calon maba tidak perlu melakukan tes ataupun ujian, calon maba hanya perlu mengirimkan nilai raport mereka dari semester 1 -5 di SMA untuk kemudian diseleksi sebagai syarat masuk PTN. Tanpa tes, kita bisa diterima lewat jalur ini asal nilai raport kita lolos seleksi. Itulah mengapa orang-orang lebih suka menyebutnya jalur undangan. Siapa sih yang nggak mau diundang sama universitas negeri buat masuk jadi maba mereka tanpa ujian? Lantas bagaimana dengan saya? Saya tidak lolos bung! Tenang tenang, masih ada kesempatan lain.

Jalur kedua, SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Beda dengan jalur pertama, di jalur ini kita harus mengikuti ujian tertulis. Disini saya masih konsisten di pilihan saya, ilmu komunikasi UGM. Persiapan tentu saya maksimalkan di jalur ini, les di bimbingan belajar intensif selama sebulan penuh dan tentunya belajar mandiri. Dan apa yang terjadi? Untuk kedua kalinya kampus biru menolak saya alias saya dinyatakan tidak lolos. 

Oke, last chance masuk UGM. Ujian mandiri! Ilmu komunikasi masih jadi tujuan utama saya, saya adalah satu dari sekian puluh ribu orang di Indonesia yang menggantungkan harapan untuk masuk UGM lewat jalur ini. Jadi bagaimana hasilnya? Untuk ketiga kalinya saya ditolak UGM teman-teman! Tiga kali! Bayangkan aja gimana rasanya kita nembak gebetan kita sampe berkali-kali tapi semuanya itu ditolak sama dia. Ibarat nyari pacar, jika kita nggak diterima sama orang yang kita pilih, masih ada pilihan lain. Ingat, Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan bukan? Sama halnya kita calon-calon mahasiswa baru, Tuhan pasti telah mengatur pasangan kita dalam menimba ilmu. Kita dan kampus kita sudah ada yang ngatur, kok. 

Bertemu UMY
Tiga kesempatan saya untuk masuk UGM hasilnya nihil, mau tidak mau saya harus banting setir mencari alternatif lain selain kampus biru. Kebanyakan temen-temen seangkatan saya di SMA udah diterima di perguruan tinggi pilihan mereka masing-masing, bahkan sebagian dari mereka udah narsis dengan jas almamater kampus mereka. Saya? Masih berjuang. Oke, kembali ke tujuan saya dari awal. Saya ingin kuliah di ilmu komunikasi. Apapun embel-embel universitas apa di belakangnya saya sekarang tidak peduli. Yang terpenting adalah prodi di universitas tersebut mempunyai kualitas yang ga kalah. Walaupun itu berstatus luar negeri alias swasta. Saya sangat percaya dengan sebuah ungkapan “Emas tetaplah emas walaupun jatuh ke comberan”. Apa maksudnya? Seburuk-buruk apapun suatu tempat (dalam hal ini adalah perguruan tinggi) jika di dalamnya itu terdapat seseorang yang ‘hebat’ maka orang itu akan tetap pada ‘kehebatannya’. Bahasa mudahnya begini, kalau kita mau kuliah dimanapun itu, mau negeri ataupun swasta, kalau kita bersungguh-sungguh disitu Insya Allah kalau Tuhan menghendaki kita akan keluar dari perguruan tinggi sebagai orang-orang yang hebat

Atas dasar inilah saya memantapkan pilihan mendaftar untuk mengikuti seleksi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saya ingat hari itu adalah tepat di hari terakhir pendaftaran. Untung ga telat hehehe. 

"Terkadang kita hanya terfokus pada satu pintu untuk meraih kesuksesan, sampai lupa masih banyak pintu lain yang terbuka"

Bismilah, saya udah mantap 
Senin, 1 September 2014. Hari itu saya berkumpul dengan kurang lebih 5.772 mahasiswa baru di UMY untuk mengikuti masa orientasi mahasiswa selama 3 hari. Agak ribet sih bawaannya, but it’s okay. Sedikit-sedikit mengeluh bukanlah sikap seorang mahasiswa. Pernahkah temen-temen berpikiran kalo kita adalah generasi-generasi yang beruntung, tidak semua orang mendapat kesempatan untuk kuliah. Buat temen-temen yang sekarang udah kelas 3 SMA, siap-siap yaa. Ospek mah enjoy aja bro!

Memasuki dunia baru yang masih asing, mengharuskan seorang mahasiswa baru untuk cepat-cepat beradaptasi. Lingkungan baru, temen-temen baru, dosen baru, dan semoga dapet gebetan baru. Amin hehehe...  Tapi yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita memulai sebuah perjuangan itu sendiri, bagaimana kita memulai perjuangan sebagai mahasiswa demi mencapai target selanjutnya. Apakah kita akan santai berleha-leha? “Ah kita kan masih maba bro, jadi jangan dibikin serius, santai ajalah” atau kita akan tancap gas dari awal? Jika dua pilihan tersebut anda tujukan pada saya, saya akan memilih opsi kedua. Okelah kalau kita masih beranggapan “Begining is always hardest part”, apalagi memulai kegiatan sebagai mahasiswa, godaan dari depan belakang kiri kanan siap menggoda kita kapan saja. Tapi percayalah temen-temen, kalo kita memulai segala sesuatu dengan hati yang ikhlas, dengan perasaan gembira tanpa ada tekanan tanpa ada paksaan, Insya Allah Tuhan pasti mudahkan jalan kita. Memulai setiap pagi dengan gembira, ditambah dengan ucapan “bismilah, lancarkanlah hari ini ya Tuhan..”, lakukan setiap pagi sebelum kita melakukan segala aktivitas. Inilah yang saya sebut input yang baik. Kalo inputnya aja udah baik, saya jamin prosesnya pasti ikut baik juga, dan akhirnya akan menghasilkan keluaran atau output yang baik pula. Ibarat tubuh kita, apabila kita makan makanan yang bergizi dan tidak mengandung racun, nantinya akan dicerna dengan baik oleh lambung,  outputnya? Badan sehat dan kuat, kan. Ceritanya beda kalo yang kita makan itu makanan yang udah lewat tanggal kadaluwarsanya, apalagi makanan itu udah nggak layak kita makan. Di pencernaan kita makanan itu justru akan menjadi racun dan ujung-ujungnya membuat kita sakit. Sama halnya ketika kita akan memulai hari-hari kita sebagai mahasiswa. Awali hari-hari kita setiap pagi dengan doa temen-temen. Yang muslim salat dhuha sebelum beraktivitas recommended banget buat kita biar urusan-urusan kita dilancarkan dan dimudahkan. Serius nih, saya sendiri udah nyobain. Efeknya beneran kerasa, dua riussss. Intinya kalo kita memulai kegiatan apapun itu dengan hal-hal yang baik dan positif, Insya Allah hasilnya juga baik. Hasil akhir mah ga pernah berkhianat. 

Jadi, gimana temen-temen? Siap jadi output-output yang berkualitas? Bismilah! Cukup jawab dalam hati sendiri.

2 komentar:

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya