Kamis, 06 November 2014

Seharum Melati

                                                                                                                                                             ilustrasi
Menolak Pesimis --  Kamis pagi, 23 Oktober 2014. Jadwal kuliah sangat padat. Seperti biasa, pukul 7 pagi saya sudah harus ada di kampus untuk menghadiri kelas. Salah satu mata kuliah hari itu adalah public speaking, salah satu mata kuliah favorit saya. Dosen menugaskan kami untuk maju satu per satu mempraktekkan berbicara di depan kelas, apapun itu ceritanya. Tibalah giliran saya, melalui forum tersebut saya membahas mengenai kaitan sebuah kesuksesan seseorang dan orangtuanya. Entah mengapa saya sangat berkeinginan untuk segera menyampaikan hal tersebut di hadapan teman-teman dan dosen.


Man jadda wa jadda, if there is a will the is a way, kalau orang Jawa bilang sopo sing nandur bakalan metik. Ya, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Siapa yang belum pernah mendengar kata mutiara yang sangat familiar ini. Kesungguhan seseorang memang sangat menentukan sukses atau tidaknya orang tersebut. Dalam semua hal. Entah kuliah, kerja, sekolah, semuanya. Bagaimana mungkin kita meraih kesuksesan tanpa kesungguhan untuk meraihnya? Keajaiban? Tidak, keajaiban bukan diperuntukkan untuk orang-orang yang hanya menunggu tanpa melakukan sebuah aksi.

Namun kadang kita sering lupa satu hal. Satu hal yang sangat berpengaruh bagi kesuksesan kita. Orangtua. Seberapa pengaruh mereka? Jangan pernah menghitung. Karena memang hal itu tidak akan pernah bisa dihitung. Okelah kalau kita ingin menghitung pengorbanan materil mereka dari sejak kita dilahirkan di dunia hingga sekarang. Mungkin itu masih bisa dijelaskan dengan angka, walaupun jumlahnya sangat sangat besar. Namun bagaimana dengan pengorbanan moril mereka? Nobody can't count. Saya tiba-tiba teringat oleh seorang mahasiswa senior saya di UMY, Cinky Prianto. Mahasiswa TI ini baru saja diwisuda beberapa minggu yang lalu. Anak desa dari Pangandaran, Jawa Barat ini adalah wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2014. IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) nya sempurna, 4,00. Tahukah teman-teman jawaban Cinky ketika ia ditanyai apa yang menjadi motivasi terbesarnya bisa meraih prestasi tersebut? Jawabannya adalah almarhum sang ayah. Sang ayah meninggal 10 hari jelang keberangkatannya ke Jogja untuk kuliah. Cinky merasa berhutang kepada ayahnya untuk memenuhi amanah almarhum untuk menuntut ilmu. Inilah salah satu contoh betapa pentingnya peran orangtua bagi kesuksesan kita, sebagai anaknya.

Teman-teman, kalau boleh saya cerita, ayah saya atau bapak saya (begitu saya memanggilnya) telah 3 bulan lebih terbaring lemah di tempat tidur. Kanker hati harus memaksanya menghabiskan hari-hari dengan terbaring lemas. Dimulai sejak Agustus 2014, praktis beliau tidak bisa beraktivitas apa-apa. Tak terkecuali menghadiri wisuda kakak perempuan saya di Jakarta. Saya masih ingat beberapa bulan jauh sebelum ini bapak sangat bersemangat untuk menghadiri wisuda kakak saya itu. Namun apa daya ketika rencana tersebut hanyalah sebatas rencana. Tuhan punya rencana lain. Beliau hanya dapat memberikan selamat lewat SMS, itu pun harus diketikkan oleh orang lain.

"Bilamana Sang Maha Sutradara sudah berkehendak, bisa apa seorang aktor selain menerima?"

Bangsal Melati, 26 Oktober 2014

Kondisi bapak semakin hari semakin menurun. Ini adalah keempatkalinya beliau dirawat di rumah sakit dalam kurun waktu 3 bulan. Sore itu saya masih dalam perjalanan dari Kaliurang, Sleman bersama teman-teman pers mahasiswa UMY. Sempat sebelum berangkat pulang saya menanyakan kabar bapak kepada ibu lewat telepon. Ibu hanya menjawab bapak masih seperti biasa, lemas.

Rencana awal, setelah saya sampai di rumah, saya berencana untuk langsung menyusul ke rumah sakit menemui keluarga yang sudah disana. Benar saja, rencana tersebut memang benar terlaksananya. Saya tiba di rumah pukul 18.15 sore, suasana rumah tidak seperti biasanya. Saya disambut puluhan tetangga, lampu-lampu menerangi kanan kiri halaman rumah. Batin saya langsung paham dengan suasana ini. Benar saja, berita duka itu pun benar-benar sampai kepada saya. Bapak telah meninggalkan kami semua.

Rasanya baru beberapa hari setelah saya berbagi dengan teman-teman di kelas tentang kaitan kesuksesan dan orangtua. Apa yang saya sampaikan saat itu pun harus saya alami. Tapi bagaimanapun juga, inilah jalan yang harus dijalani dan diterima dengan lapang dada. Tuhan Sang Maha Sutradara sudah berkehendak, bisa apa kita manusia sebagai aktornya selain menerima?

Satu hal yang harus saya garis bawahi disini, seringkali kita mendengar ungkapan "Dibalik kesuksesan seseorang, ada wanita hebat di belakangnya". Di belakang SBY ada Bu Ani, di belakang Habibie ada Ainun. Mungkin itu memang benar bagi sebagian orang, sekali lagi saya bilang, kita sering lupa teman-teman. Kita sering lupa bahwa sesungguhnya di balik kesuksesan seseorang ada orangtua hebat di belakangnya. Dialah sebenar-benarnya Most Valuable Player dalam hidup kita.

Terimakasih banyak. Jasa dan pengorbananmu akan selalu harum, seharum tempat terakhirmu melihat dunia, melati...


Bersama almarhum waktu liburan di Bali, Januari 2014
Saking jadulnya, sampai lupa kapan foto ini diambil. Satu piring berdua.

1 komentar:

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya