Kamis, 01 September 2011

Malam Takbiran Kini Kehilangan Makna

Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah telah tiba, berbagai kemeriahan dan suka cita umat Muslim sudah terasa dari sore menjelang malam takbiran. Banyak orang berkumpul di pusat kota seperti alun-alun untuk melihat semaraknya malam takbiran. Tapi, saya sendiri lebih memilih ke masjid dekat rumah mengagungkan asma Allah bersama jamaah lainnya sembari mempersiapkan Idul Fitri keesokan harinya. Saya pikir hal ini lebih bermakna daripada konvoi keliling kota di malam takbiran

Mengumandangkan takbir sejatinya adalah mengagungkan nama Allah.  

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (membesarkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Membesarkan asma Allah hendaknya dengan keikhlasan, kerendahan hati dan dilandasi rasa syukur kepada Allah atas karuniaNya yang telah dilimpahkan selama Ramadhan.

Namun, realita saat ini tidak demikian. Malam Takbir seakan kehilangan makna sesungguhnya. Malam Takbiran kini cenderung semaunya sendiri. Banyak orang berkumpul di pusat kota atau alun-alun hingga memacetkan jalan raya, muda-mudi bukan muhrim berboncengan, bercampur baur di keramaian. Mereka kebanyakan menyalakan kembang api di pusat kota hingga larut malam sampai-sampai tidak ingat waktu salat Maghrib dan Isya, padahal alun-alun kota biasanya berdampingan dengan masjid besar di kota tersebut. 

Belum lagi orang-orang yang konvoi dengan kendaraan kelilung kota. Kebanyakan kendaraan yang digunakan adalah kendaraan bak terbuka yang dinaiki banyak orang. Mereka tidak menghiraukan keselamatan diri mereka. Himbauan dari pihak kepolisian pun diabaikan. Tidak jarang saya menjumpai orang-orang yang konvoi tersebut bertakbir semaunya sendiri yang terkesan main-main. Saya pikir mereka lebih mirip suporter bola. Mereka pun kebanyakan tidak menghiraukan kebersihan setelah berkumpul di pusat kota. Banyak sampah bertebaran di jalan-jalan raya. 

Jadi, Mengagungkan nama Allah ada etikanya. Jangan asal bertakbir semaunya sendiri. Agungkanlah Nama-Nya dengan hati yang damai, jiwa yang ikhlas dan penuh rasa syukur kepada Allah Ta'ala

Tak lupa saya ucapkan, "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah, Mohon Maaf Lahir & Batin, Semoga Allah Menjaga Tali Persaudaraan Diantara Kita Semua"


Ayo Ikuti Howdy Indonesia di Facebook



2 komentar:

  1. setuju sekali, takbir ada etikanya. tdk boleh sembarangan dan semaunya sendiri, naudzubilahi minzalik

    BalasHapus
  2. ga terasa udah mau idul adha, oke selamat menyambut idul adha dgn takbir, tetep jaga etika

    BalasHapus

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya