Jumat, 14 Februari 2014

Saljuku Berwarna Abu-abu

Semalam saya memutuskan untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Dengan harapan besok saya bisa bangun pagi-pagi dan tidak terlambat masuk sekolah, saya sudah membaringkan badan lemah saya di ranjang jam 9 malam.
Pagi harinya, tidak seperti biasanya Bapak membangunkan saya. Saya pikir tepatnya bukan membangunkan. "Iseh due masker ora le?" kata dia. "Masih punya masker nggak, nak?" Kurang lebih seperti itu kata Bapak dalam Bahasa Indonesia. Kami tinggal di sebuah desa kecil bernama Pengasih, lebih tepatnya asalkan tidak jalan kaki tidak sampai 5 menit ke arah utara Kota Wates, Ibukota Kabupaten Kulon Progo, salah satu kabupaten di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lalu kenapa Bapak menanyakan masker? Saya tidak memperdulikan hal itu sebab saya baru saja bangun. Seperti kata orang-orang, "nyawa" saya belum kembali seutuhnya. Namun, setelah jam ponsel yang sudah menunjukkan angka 05.30 saya bergegas bangun. Saya harus sudah ada di sekolah sejam lagi. Saya melihat ke luar jendela, masih gelap. Mungkin saya salah melihat jam, pikir saya.

"Diluar hujan abu", kata Ibu. Sempat agak terkejut, tapi ternyata benar. Abu sedang berjatuhan di luar, menutupi semua benda yang ia hinggapi. "Merapi meletus lagi?", gumam saya. Bukan, ini bukan dari Merapi. Ini dari Gunung Kelud di Jawa Timur sana.
Monumen Nyi Ageng Serang tak luput dari abu vulkanik


"Salju" ini memang bukan pertama kalinya kami rasakan. Masih jelas dalam ingatan kami, memori 3 tahun yang lalu saat Merapi juga memuntahkan isi perutnya.

Hal itu terulang lagi hari ini, Jumat 14 Februari 2014. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DIY mengisntruksikan sekolah untuk diliburkan, jalan-jalan sepi, beberapa bandara ditutup, listrik padam hampir 4 jam, awan yang mendung dan gemuruh petir menambah ngeri suasana di luar. Sesekali turun gerimis, namun masih kalah banyak dengan abu yang turun. Di ruang tamu, sembari memandangi abu-abu yang berjatuhan di luar, saya menulis tulisan ini. Sekarang hampir pukul setengan sepuluh pagi, tapi suasana disini lebih cocok dengan pukul enam pagi.

Jika disini saja yang jaunya ratusan kilometer dari Gunung Kelud mengalami dampak yang luar biasa hanya karena hujan abu, lantas bagaimana dengan mereka saudara-saudara kita di sekitar Kelud? Belum hilang penderitaan saudara-saudara kita di Sinabung. Belum hilang pula luka masyarakat Indonesia atas banjir yang terjadi dimana-mana. Seakan tidak peduli waktu, Kini, giliran Kelud menebar luka.

Satu hal yang harus saya bawahi. Doa kita adalah harapan mereka. #PrayForKelud #PrayForIndonesia

2 komentar:

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya