Minggu, 04 Mei 2014

Bea Cukai: Tugas Mulia di Ujung Nusantara

                                                                                            Sumber gambar (http://bctembilahan.beacukai.go.id)
Pagi masih terlalu awal, matahari masih bersembunyi dibalik gelapnya perairan Batam. Pria-pria tangguh bersiap menghidupkan mesin kapal. Sebuah tugas mulia memaksa mereka untuk tidak membaringkan badan di ranjang. "Ayo cepat bergerak, jangan sampai mereka lolos", kurang lebih seperti itu apa yang diintruksikan komandan. Tubuh mereka seolah telah disetting untuk tidak bisa merasakan dinginnya suhu udara pagi buta di perairan yang hanya sepelemparan batu dari hingar bingar Singapura ini. Mereka berhasil, sebuah kapal tongkang pengangkut kayu ilegal yang akan diselundupkan ke luar negeri berhasil mereka ringkus. Satu lagi aset negara berhasil mereka selamatkan.

Saya masih ingat cuplikan drama menegangkan penyergapan bea cukai terhadap kapal penyelundup kayu yang disiarkan program Garis Depan episode "Sisi Gelap Gerbang Barat" oleh Kompas TV beberapa minggu yang lalu ini.

Berbicara tentang peran bea cukai di daerah perbatasan negara memang tidak lepas dari tugas dan fungsi bea cukai tersebut. Tantangan dan tanggungjawab besar menanti mereka yang ditempatkan di ujung nusantara. Secara pokok ada dua tugas yang harus dilaksanakan jajaran bea cukai di daerah perbatasan: melayani dokumen untuk keluar masuknya barang melalui perbatasan serta para pelintas batas, dan melakukan pengawasan atas barang dan orang yang masuk maupun keluar daerah pabean yang melalui daerah perbatasan darat antar negara. Adanya pos pengawasan di pos-pos tertentu di daerah perbatasan darat didirikan guna melaksanakan tugas dan fungsi pokok bea cukai di daerah perbatasan.

                    Kantor Bea Cukai Entikong, Kalimantan Barat. Perbatasan Indonesia-Malaysia (sumber gambar: beacukai.go.id)
Tugas dan fungsi tersebut tidak serta merta sudah berjalan dengan baik. Beberapa kendala masih terjadi khususnya di bea cukai daerah perbatasan. Saya mencoba menghubungi jajaran bea cukai yang ditempatkan di daerah perbatasan untuk berbagi mengenai kendala ini. Ismanu Hardianto, seorang pegawai di jajaran Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Entikong, Kalimantan Barat yang merupakan perbatasan Indonesia-Malaysia ini menyoroti jumlah pegawai yang kurang serta sarana prasarana yang kurang memadai di daerah perbatasan. "Jumlah pegawai kurang dalam melaksanakan tugas bea cukai, khususnya di bidang pengawasan, sarana prasarana disini juga kurang memadai mengingat daerah perbatasan yang cenderung jauh dari perkotaan", ungkap Ismanu.

Sumber daya manusia yang sesuai dengan beban kerja juga merupakan elemen penting bagi pemilihan penempatan pegawai. Right man in right place, pola mutasi pegawai di perbatasan perlu mempertimbangnkan orang-orang yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan bea cukai di perbatasan. Kurangnya pengetahuan masyarakat sekitar mengenai kepabeanan di daerah perbatasan juga merupakan salah satu hambatan yang perlu diselesaikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Sosialisasi mengenai kepabeanan kepada masyarakat perlu digencarkan lagi agar tidak muncul pemahaman yang salah mengenai bea cukai.

Kekurangan-kekurangan tersebut sepatutnya bisa menjadi dorongan bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Republik Indonesia untuk bekerja lebih baik, melayani lebih baik, dan tentunya menjalankan tugas bagi negara dengan lebih baik. Bravo Indonesian Customs!

Referensi
http://www.beacukai.go.id
http://www.bctembilahan.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya