Jumat, 11 Juli 2014

Yang Terhormat: Para Bos Media

                                                                                                                  Indonesia Vote: In Pictures/ bbc.com
Ini hanya sebuah kisah biasa dari seorang anak yang baru saja lulus dari bangku SMA. Kini ia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi. Ia sedang berjuang masuk perguruan tinggi idamannya yang kata orang merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di kota ini. Kota Jogja.

Perawakannya biasa saja seperti laki-laki seusianya. Tinggi badannya hanya 167 cm. Kebiasannya di rumah adalah menulis. Menulis di media sosial tepatnya. Sejak awal masuk SMA ia memang sudah jatuh cinta dengan kebiasaan ini. Ia pun mengembangkan hobinya ini dengan mencoba aktif dengan membuat sebuah blog. Segala keinginannya, segala  unek-unek yang ada di pikirannya selalu coba ia tuangkan pada blog tersebut. Tak jarang ia menulis berawal dari suatu kegelisahan yang sedang dipikirkannya. Ya, bagi sebagian orang menulis adalah sarana yang tepat untuk menuangkan kegelisahan yang sedang ia alami, siapa saja dia tak terkecuali. Seorang Mahfud Md menulis sebuah opini di media setelah ia membaca sebuah opini di koran yang menyebut Mahkamah Konstitusi yang kala itu dipimpin olehnya terlibat kasus suap yang melibatkan para hakim konstitusi. Tudingan tersebut tentu adalah pukulan telak yang ditujukan kepadanya. Beliau gelisah dengan apa yang dibacanya, beliau pun membalas tudingan tersebut dengan menulis. Sama halnya dengan Nurmillati Adabiyah, seorang anak SMA yang tahun ini mengikuti ujian nasional. Beberapa waktu yang lal ia menuliskan kegelisahannya tentang pelaksanaan ujian nasional yang banyak menuai pro kontra dalam sebuah surat terbuka yang langsung ia tujukan kepada Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh. 

Seperti halnya anak ini tuliskan saat ini. Tidak melulu mengenai percintaan, bukan. Bukan itu kegelisahan yang sedang dialaminya. Belakangan ini ia gelisah dengan apa yang dilihat dan didengar olehnya dari televisi, internet, ataupun koran. Terlebih beberapa bulan menjelang tanggal 9 Juli 2014 ini. Pertandingan Brazil melawan Jerman? Tentu saja bukan itu. Pemilihan presiden Republik Indonesia.

Ia kini sudah berusia 18 tahun. Itu berarti ia sudah punya hak untuk ikut menentukan masa depan negaranya sendiri lima tahun kedepan mau seperti apa. Ia adalah salah satu dari 67 juta pemilih newbie yang terdaftar di seantero negeri. Pemilu yang hebat, bukan?

Ia adalah anak yang menaruh ketertarikan dengan dunia jurnalistik. Apapun itu televisi, media cetak, media online, maupun radio. Ia selalu kagum dengan melihat para pembawa berita yang nongol di televisi tiap pagi lengkap dengan kru-kru mereka di balik layar. Belum lagi studio mereka yang berdiri megah lengkap dengan peralatan jurnalistik yang wow. Ia pernah membayangkan bekerja disana, menjadi bagian dari mereka untuk satu tujuan mulia, memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang tidak terbatas. Bekerja siang malam, dituntut cepat dan tanggap terhadap peristiwa apapun yang terjadi. Itulah dunia yang ia cita-citakan kelak.

Kini, apa yang ia kagumi ternyata tidak sehebat yang ia kira. Tidak seperti dulu, beberapa bulan menjelang pilpres ia lebih suka mematikan televisinya daripada harus melihat perkembangan berita politik mengenai pemilihan presiden. Kalaupun menyalakan televisi, hanya untuk melihat siaran langsung sepakbola. 

Sebuah lelucon yang sangat tidak lucu ketika melihat televisi kini ramai-ramai menjadi "tim sukses" kampanye hanya karena bos nya adalah elit politik yang menjalin koalisi dengan salah satu kubu calon presiden. Misi mereka satu, memenangkan presiden dari masing-masing kubu dalam pilpres 2014. Ia tambah gelisah ketika semakin hari semakin mendekati pilpres, semakin "gila" pula dukungan yang digaungkan channel-channel televisi tersebut. 

Dulu, jauh sebelum pilpres 2014, channel televisi swasta seperti Metro TV, TVone, MNC TV, RCTI, dan Global TV adalah channel-channel favoritnya. Terlebih TVone, bisa dibilang TVone adalah channel televisi yang paling sering ia nikmati. Mulai dari pagi dengan "Apa Kabar Indonesia" nya, siang dengan "Kabar Siang" nya hingga tengah malam dengan "Kabar Malam" nya. Belum lagi presenter-presenter favoritnya kala itu, sebut saja Alfito Deanova, Indi Rahmawati, Winni Charita, Ratna Dumila, hingga Karni Ilyas. Ia selalu menaruh respect yang tinggi kepada para jurnalis ini atas kinerjanya menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Sangat sangat disayangkan ketika materi-materi pemberitaan channel-channel tersebut terlihat sekali diatur oleh "bos" mereka sendiri untuk menonjolkan salah satu capres. Dengan sangat kecewa ia menyatakan ketidak'respect'annya terhadap channel-channel televisi di atas dalam sebuah tulisan.

"Yang terhormat Bapak Hary Tanoesodibjo, Bapak Surya Paloh , dan Bapak Aburizal Bakrie. Saya adalah salah satu konsumen perusahaan televisi yang Bapak naungi yang dulu menaruh kekaguman yang luar biasa atas kebesaran media yang Bapak miliki. Dulu, saya selalu duduk manis di depan televisi setiap pagi untuk melihat berita-berita terbaru dari televisi Bapak. Dulu, saya sangat percaya dan tidak meragukan profesionalisme media yang Bapak pimpin, saya yakin bahwa apa yang media Bapak sampaikan adalah apa adanya, tidak mengada-ada, sesuai fakta, tidak memihak dan selalu menjaga netralitas. Mohon maaf, ternyata saya salah. 

Saya masih ingat dulu saat duduk di kelas 3 sekolah menengah atas. Saya masih ingat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang membahas tentang materi Pers, saat itu guru menerangkan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pers di era reformasi, salah satunya adalah pers sebagai alat perjuangan politik. Saat itu saya ragu dengan pernyataaan ini, saya yakin pers Indonesia menjunjung tinggi independensi dan netralitas terlebih di era pasca reformasi. Pemilu datang, saya pikir itu adalah sebuah tantangan besar bagi media untuk membuktikan diri tetap netral dan profesional. Dan pemilu tahun ini memberikan jawaban atas keraguan saya tersebut, Bapak tidak bisa menjawab keraguan saya, Bapak memilih lebih memihak, Bapak lebih memilih melakukan kebohongan besar terhadap publik, Bapak lebih memilih mengorbankan kredibilatas media Bapak di mata masyarakat. Sah-sah saja jika Bapak aktif di dunia politik, namun bukan berarti Bapak bisa seenaknya mengatur-ngatur media yang Bapak pimpin. Adalah sangat tidak etis ketika Bapak hanya memanfaatkan kebesaran media Bapak untuk alat perjuangan politik salah satu kubu. Ketahuilah, masyarakat Indonesia tidak bodoh. Saya bukan tim sukses nomor satu maupun dua, saya hanya anak 18 tahun yang muak dengan apa yang Bapak lakukan. "

Klimaksnya hari ini, 9 Juli 2014. Ia bersama 160 juta pemilih merayakan pesta demokrasi dengan datang berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara yang tersebar di lebih dari 479 ribu tempat seantero negeri. Belum juga ditutup pukul 1 siang, channel-channel televisi swasta bekerja sama dengan lembaga survey sudah berlomba-lomba menampilkan hitung cepat siapa yang sekiranya terpilih menjadi presiden. Bukan yang paling cepat tentunya yang orang-orang cari, cepat dan tepat yang orang-orang cari. Polemik pun dimulai. Pukul 5 sore, kebanyakan lembaga survey telah menyelesaikan proses hitung cepat versi mereka sendiri-sendiri. Ia agak kaget ketika membandingkan hasil survey dari sebuah channel televisi dengan channel yang lain. Di satu sisi, channel televisi yang bekerjasama dengan 8 lembaga survey memenangkan pasangan nomor 2. Di satu sisi,  channel televisi yang bekerjasma dengan 4 lembaga survey lainnya memenangkan pasangan nomor 1. Ia sama sekali tidak membenarkan salah satu hasil hitung cepat, baginya rekapitulasi dari KPU adalah hasil resmi pilihan rakyat Indonesia. Namun demikian, tiap kubu mengklaim atas kemenangan dirinya dengan disambut suka cita, bahkan rumah pemenangan salah satu capres sudah kebanjiran karangan bunga ucapan selamat. Dalam pikirannya, "Ah, negeri ini memang terlalu mudah dikendalikan oleh survey".

Survey ini bayaran salah satu kubu? Ah tidak, ia tidak pernah menyimpulkan demikian. Ia hanya ingin apapun hasilnya nanti dari KPU dapat diterima dengan jiwa yang besar oleh masing-masing kubu. Bukankah nanti ketahuan siapa yang independen dan siapa yang memihak?

Pemilu sudah lewat. Sepertinya channel-channel televisi tersebut sekan menutup telinga atas cibiran-cibiran masyarakat atas pemberitaan mereka yang kelewatan. Ia pun lebih memilih untuk tidak mengikuti perkembangan berita di televisi yang masih saja membahas hitung cepat yang telah membuat kisruh masyarakat. Cita-citanya sederhana, suatu hari ia akan memimpin suatu media besar dimana misinya adalah menyampaikan apa adanya, tanpa ada maunya.

Ia adalah saya.

2 komentar:

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya