Kamis, 28 April 2016

Di Balik Malioboro

Sebagai destinasi utama di Yogyakarta, Malioboro selalu menarik perhatian, termasuk bagi mereka yang terlonta-lonta berusaha merajut kehidupan di ‘Kota Pendidikan’.
Oleh: Yusuf Harfi

Saya memesan secangkir capuchino hangat malam itu, sebuah keputusan yang tepat setelah menerjang hujan di jalanan Yogyakarta yang ramai kendaraan bermotor. Sebuah cafe kecil di jantung perkampungan padat Sosrowijayan. Sebuah kampung tepat di belakang Malioboro, kawasan perbelanjaan yang tersohor itu. Sosok pria paruh baya sudah menunggu saya duduk di salah satu kursi dekat jendela. Saya berjumpa dengan Reza, mahasiswa yang sedang menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta ini sepakat dengan saya untuk bertemu di tempat itu.

Ditemani gemercik hujan, dan tentunya hangatnya capuchino, kami bicara panjang lebar tentang apa yang setidaknya hampir dua tahun ini menjadi kesibukan seorang Reza. Dia tergabung dalam sebuah komunitas yang menurut saya luar biasa dalam menjawab persoalan sosial di kota yang punya julukan kota pendidikan dan juga kota wisata ini, Save Street Child (SSC). Mendengar namanya sekali saja, orang-orang akan tahu apa yang menjadi alasan dan tujuan untuk apa komunitas ini dibentuk. Menyelamatkan anak-anak jalanan. omunitas di mana Reza kini menjadi salah satu pentolannya ini fokus pada pendidikan dan pendampingan para anak jalanan di kota Yogyakarta, terkhusus mereka yang tersebar mulai dari Malioboro, Pasar Kembang, Abu Bakar Ali, Mangkubumi, hingga sekitaran Keraton.


“Kebanyakan dari mereka bukan asli Yogyakarta, mereka berasal dari luar daerah. Awalnya tidak banyak anak jalanan yang ikut dengan kami, tapi lambat laun mereka mengajak temannya ke komunitas kami, sekarang sekitar 30 sampai 40 anak,” tutur Reza. 

Anak jalanan sudah menjadi permasalahan bersama bagi kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan juga Yogyakarta melalui Dinas Sosial Kota Yogyakarta, dan juga Dinas Sosial Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, melihat persebaran mereka juga telah sampai ke daerah lain seperti Sleman dan Bantul. Dinas Sosial Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat ada kurang lebih 1.200 anak pada tahun 2008 lalu, di mana berhasil diturunkan menjadi 312 anak pada tahun 2011 melalui program-program penanganan dan pendampingan. Walaupun demikian, data statistik jumlah anak jalanan di kota Yogyakarta bisa dibilang simpang siur melihat mobilitas anak jalanan yang cukup tinggi. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial Republik Indonesia merilis statistik anak jalanan seluruh Indonesia mencapai 34.000 anak pada 2015. Sebagian besar dari jumlah itu berada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.


Reza menceritakan kepada saya bagaimana para anak jalanan di sekitaran Malioboro melakukan aktivitasnya sehari-hari yang mana harus mengurus dirinya sendiri. “Mereka di sini hidup mandiri, lebih sering beraktivitas malam hari, kalau siang biasanya tidur,” katanya. “Banyak yang tidak tahu siapa orangtua dan keluarganya,” tambah Reza. 
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar 
dipelihara oleh negara”
– UUD 1945, Pasar 34 Ayat 1
Siang harinya, saya menyempatkan kembali lagi melangkahkan kaki di jalanan Malioboro. Seperti biasa, para penjual dan pengunjung membaur di antara bangunan-bangunan toko yang berderet. Saya sengaja berjalan kaki dari ujung persimpangan jalan Pasar Kembang  dan Abu Baka Ali ke arah selatan menuju bilangan Nol Kilometer sejauh 700 meter dan kembali lagi melewati sisi jalan yang berbeda. Saya menemui beberapa anak jalanan yang saya perkirakan umurnya seusia anak SMP. Duduk sendiri di tepi jalanan Malioboro. Dua anak yang lain sedang memainkan gitarnya di hadapan para pelancong. Mengharap koin demi koin masuk ke kantong yang sudah mereka siapkan. Tidak banyak yang saya temui, hanya beberapa. Benar apa yang dikatakan Reza, mereka lebih suka beraktivitas malam hari.  

Ketika malam hari, para anak jalanan biasa berpencar di beberapa titik mulai dari kawasan Malioboro, Mangkubumi, Pasar Kembang, Nol kilometer, hingga kawasan Alun-alun utara. Ada yang tidak melakukan apa-apa hanya bersenda gurau dengan rekannya, sesekali menengadahkan tangannya kepada pengguna kendaraan yang berhenti di lampu lalu lintas, ada pula yang sibuk bekerja lewat petikan gitarnya. Semakin malam maka akan semakin mudah menemui mereka.

Angka anak putus sekolah di Yogyakarta berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah anak jalanan. Banyak anak jalanan yang tergabung dalam SSC yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formalnya akibat faktor kemiskinan dan juga dorongan untuk bekerja mencari penghidupan. Reza menceritakan kepada saya bagaimana upayanya bersama para relawan di komunitas SSC untuk memenuhi hak akan pendidikan bagi mereka, sebagaimana telah diamanahkan dalam undang-undang negeri ini. Selain memberikan pendidikan keilmuan, SSC juga memberikan pendidikan keahlian kepada para anak jalanan seperti keahlian menyetir. “Sebagian besar sudah tidak sekolah formal, kami mencoba memberikan pendidikan informal seperti menyetir dan keahlian-keahlian lainnya,” terangnya. Ia menceritakan seorang anak jalanan yang ikut dengan SSC yang kini mendapatkan pekerjaan tetap sebagai supir jasa angkutan setelah diberikan pelatihan. 

Untuk melaksanakan agenda mereka bersama para anak jalanan, para relawan SSC akan mendatangi satu per satu anak jalanan untuk memberitahukan agenda apa, kapan, dan di mana kepada mereka, tersebar dari Malioboro hingga kawasan Mangkubumi dan sekitarnya. “Tidak ada handphone, kami harus mencari mereka dan memberitahu secara langsung”.

Bisa berbaur dengan para anak jalanan bukanlah hal yang mudah. Reza bersama SSC mengaku membutuhkan waktu yang cukup lama agar para anak jalanan dapat menerima kehadiran mereka. Penanganan harus benar-benar partisipatoris. Harus ada pendekatan secara intens apabila ingin berinteraksi dengan mereka. “Banyak mahasiswa yang bekerjasama dengan kami untuk melakukan kegiatan sosial dengan para anak jalanan seperti penyuluhan atau pelatihan, tidak jarang mereka tidak diperdulikan karena tidak ada pendekatan sebelumnya, tahu-tahu datang,” terangnya sambil sesekali menyeduh minuman.



Upaya untuk menyekolahkan para anak jalanan di sekolah formal telah diusahakan komunitas SSC. Tak sekedar membalikkan telapak tangan, upaya tersebut menemui banyak hambatan. Ada yang lebih suka kerja, ada juga yang terkendala data administrasi seperti akta kelahiran dan identitas lainnya yang membuat sekolah tidak mau menerima mereka sebagai murid.

SSC tidak sendirian, ada komunitas anak jalanan lainnya yang tersebar di Yogyakarta dengan tujuan dan cita-cita yang sama. Membantu memenuhi hak-hak mereka untuk mendapat akses pendidikan yang terenggut kerasnya kehidupan kota. “Hambatan selalu ada, rumah singgah kami pernah dipaksa tutup oleh warga, tidak jarang kami harus mondar-mandir ke kantor Satpol PP untuk mengadvokasi anak-anak yang terazia, kami jelas butuh bantuan pemerintah,” tutup Reza mengakhiri perbincangan kami malam itu.

Sumber referensi:
Data putus sekolah SD dan SMP tahun 2008-2011 <http://www.data.go.id/group/pendidikan>
Data anak jalanan di Yogyakarta <http://e-journal.uajy.ac.id/6809/3/TA212958.pdf>
Pusat Data Informasi (Pusdatin Kemsos) <www.kemsos.go.id>

4 komentar:

  1. Anak muda harus gerak. Boleh kritis tapi yang solutif. Saya rasa semua diawali dengan faktor ekonomi.

    BalasHapus
  2. narasinya di perbaiki mas yusuf hehehe :D konten sudah bagus, urutan penulisan di perhatikan biar pembaca fokus : ) sukses

    BalasHapus
  3. narasinya agak kurang tune in mas, konten bagus, kalo bsa dibuat bahasa yang org ttp betah membacanya dari awal sampai akhir

    BalasHapus
  4. Wah maturnuwun kritik dan sarannya mas bep hehe

    BalasHapus

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya