Senin, 09 Februari 2015

Voluntourism: Promosi Wisata Lewat Video, Kenapa Tidak?


Indonesia memang diberkahi kekayaan potensi pariwisata yang luar biasa. Menyebar luas dari Sabang sampai Merauke, keanekaragaman potensi wisata Indonesia bisa dibilang salah satu yang paling lengkap. Mulai dari alamnya yang memesona (nature), keramahan masyarakat (people), hingga kearifan budaya yang beragam dan khas tiap daerah (culture) adalah harta karun yang tak terbantahkan bagi pariwisata Indonesia.

Berbicara tentang pariwisata, maka berbicara mengenai industri. Segala potensi yang ada sudah seharusnya dikembangkan demi kemajuan pariwisata Indonesia. Industri pariwisata bisa dibilang merupakan lahan yang strategis bukan hanya untuk menggenjot pendapatan negara namun juga pada akhirnya bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Sedikit menengok negara tetangga, Malaysia dan Thailand adalah contoh bukti bagaimana sektor pariwisata dapat menyumbangkan pemasukan yang tidak sedikit bagi negara. Bagaimana dengan Indonesia? Tahun 2014 pemerintah menargetkan pendapatan 12 miliar US Dolar dari sektor pariwisata. Tidak sedikit bukan?

Tantangan selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam pengembangan potensi sektor pariwisata ialah tidak lepas dari kegiatan promosi pariwisaya itu sendiri. Banyak potensi wisata di Indonesia yang masih belum terjamah oleh pengelolaan yang sebenarnya akan mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit bagi masyarakat sekitar. Di sisi lain, potensi pariwisata yang telah dikelola baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat bisa dibilang belum mendapat perhatian serius. Sebut saja bagaimana akses menuju tempat wisata yang masih banyak sulit untuk sampai ke lokasi, sarana dan prasarana di tempat wisata, hingga persoalan mengenai promosi pariwisata yang belum optimal. Promosi merupakan ujung tombak bagaimana pariwisata dapat dikenal masyarakat luas, menarik mereka untuk datang. Saya pikir Indonesia tidak pernah kekurangan potensi pariwisata untuk dikenalkan kepada masyarakat, oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak mempromosikan pariwisata Indonesia lebih giat dan lebih gencar lagi.

Saya tinggal di Kulonprogo, sebuah kabupaten kurang lebih 30 km sebelah barat dari Kota Yogyakarta. Secara administratif Kulonprogo adalah salah satu dari kabupaten di dalam provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Menjadi pintu masuk DIY dari sebelah barat dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia membuat posisi Kulonprogo dibilang strategis. Secara geografis wilayah Kulonprogo meliputi daerah pesisir, dataran rendah, hingga pegunungan di sebelah utara. Hal ini membuat potensi pariwisata di Kulonprogo bisa dibilang beranekaragam. Deretan pantai, banyak air terjun, daerah sejuk di pegunungan adalah potensi di sini. Memang apabila dibandingkan dengan kabupaten lain di DIY seperti Bantul dan Sleman, sektor pariwisata Kulonprogo masih belum terkelola dengan baik. Namun dua tahun terakhir, sektor pariwisata Kulonprogo menunjukkan grafik kenaikan yang cukup signifikan dari segi pemasukan retribusi tempat wisata. Wisata alam Kalibiru di daerah kokap, Pantai Glagah Indah, Waduk Sermo, air terjun, hingga wisata pegunungan di daerah Samigaluh perlahan menunjukkan pesonanya menarik wisatawan lokal berkunjung ke Kulonprogo.

Kembali ke pokok permasalahan mengenai promosi pariwisata. Fenomena booming-nya pariwisata Kulonprogo beberapa bulan terakhir ini sudah sepentasnya dipertahakan, jangan hanya 'meledak' sesaat, namun pengelolaan secara berkelanjutan sudah menjadi kebutuhan keberlangsungan tempat wisata di Kulonprogo. Promosi menjadi hal yang penting bagaimana sektor pariwisata dapat berkembang. Bentuk promosi pariwata dapat berbentuk bermacam-macam, mulai dari promosi secara lisan, tulisan, kampanye, atau melalui sebuah video. Bentuk promosi inilah yang akan saya ceritakan melalui tulisan ini kepada pembaca sebagai kegiatan voluntourism pariwisata Kulonprogo.

City Branding pariwisata Kulonprogo. Tanpa promosi ini hanya sebuah pajangan yang orang lain tak tahu apa maksudnya (sumber gambar: kaskus.co.id)
Berkenalan dengan Voluntourism 
Berbicara sebentar mengenai apa itu konsep voluntourism. Kata ini merupakan gabungan dari dua kata, volunteer (relawan)  dan tourism (wisata). Jika merujuk pada dua kata itu maka voluntourism  berarti relawan wisata. Bagaimana maksudnya? Secara lebih luas voluntourism dapat diartikan merupakan suatu kegiatan berwisata dimana kita tidak hanya sekedar berwisata namun juga melakukan suatu kegiatan secara sukarela yang bermanfaat bagi tempat wisata tersebut atau masyarakat di sekitar tempat wisata. Kegiatan yang dimaksud dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, prinsip penting dalam konsep voluntourism adalah kegiatan tersebut mendatangkan manfaat dan tentunya dilakukan tanpa pamrih alias sukarela. Konsep voluntourism sebenarnya telah cukup lama dikenal di negara-negara lain,  di Indonesia konsep ini belum terlalu dikenal. Namun bukan berarti konsep ini belum pernah dikembangkan di Indonesia. Bentuk-bentuk voluntourism pun bermacam-macam, misal mengunjungi daerah perbatasan negara dan melakukan kegiatan sukarela dengan membantu pendidikan masyarakat sekitar, melakukan aksi sosial membersihkan tempat wisata, dan lain-lain. Pada intinya seseorang melakukan kontribusi yang bermanfaat bagi tempat dimana ia berkunjungKonsep ini sebenarnya menarik dikaji lebih dalam, terlebih untuk kemajuan pariwisata Indonesia. Bukan tidak mungkin, konsep voluntourism menjadi solusi yang menggebrak kemajuan pariwisata.
Berlatar belakang dari sebuah ide dalam sebuah obrolan santai saya bersama lima teman saya, muncullah ide untuk membuat sebuah video promosi tentang pariwisata Kulonprogo untuk mengenalkan pariwisata Kulonprogo lebih luas kepada masyarakat. Setelah merancang konsep video, menentukan lokasi tempat wisata,  walaupun sempat terkendala tertunda waktu yang cukup lama, akhirnya ide tersebut dapat kami lakukan. Belasan tempat wisata menjadi tujuan pembuatan video promosi ini. Konsep video promosi ini  menceritakan seorang wisatawan lokal yang datang ke Kulonprogo dan menyusuri tempat-tempat wisata selama 3 hari. Mulai dari Pantai Glagah Indah, Wisata Alam Kalibiru, Waduk Sermo, Air Terjun Sidoharjo, Kebun Teh Nglingo, hingga Puncak Suroloyo menjadi list "jalan-jalan" kami.

Lantas kenapa harus video? Sudah tak terbantahkan lagi, masyarakat telah memasuki era dimana akses informasi dengan mudah diakses dalam genggaman tangan. Pengguna internet di Indonesia terus melesat, portal video seperti Youtube merupakan media yang sangat strategis untuk berbagi video dengan miliaran penonton tiap harinya. Bentuk promosi dalam bentuk video dinilai lebih menarik dan eye catching daripada gambar, audio, maupun tulisan. Hal ini adalah peluang emas untuk melakukan promosi pariwisata segencar-gencarnya. Pertanyaan besarnya sudahkah cara ini dimaksimalkan oleh pelaku dan pegiat pariwisata di Indonesia? Pertanyaan inilah yang menggelitik kami untuk menjadi "videografer dadakan", mempromosikan potensi pariwisata lokal, bukan hanya untuk wisatawan lokal dan nasional, bahkan internasional.

Jadi, begini ceritanya
Puncak Suroloyo Samigaluh, belum ada pukul 05.00 pagi. Kami pikir kami adalah tujuh orang pertama yang mengunjungi tempat ini. Loket tiket masuk masih sepi, warung makanan di sekitar pintu masuk pun belum buka. Puncak Suroloyo adalah tujuan pertama kami dalam pembuatan video promosi pariwisata Kulonprogo. Jaraknya cukup jauh dari rumah kami, kurang lebih 30 km. Agak mustahil memang bila ingin mengejar matahari terbit namun harus menempuh jarak yang cukup jauh. Oleh karena itu semalam kami menginap di rumah warga di Desa Dekso, Kalibawang. Kurang lebih 10 km dari Puncak Suroloyo.

2000 m di atas permukaan laut. Selamat pagi, Suroloyo
Berbekal alat hasil sewa dengan uang patungan dan kemampuan seadanya tentang videografi, kami menapaki 290 anak tangga dengan kemiringan yang bisa saya bilang 'cukup ekstrim'. Sesampai di puncak, Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing dengan gagah sudah menyambut kami. Kerlap-kerlip lampu Kota Magelang di sebalah utara menambah syahdu suasana. Terlihat juga Candi Borobudur yang agak malu-malu menampakkan dirinya yang masih diselimuti kabut. Kami memang sengaja untuk spot Puncak Suroloyo pagi, kami pikir disini adalah salah satu spot terbaik di Kulonprogo untuk menikmati matahari terbit.
 
Behind the scene di Puncak Suroloyo
Masih di Samigaluh. Perjalanan kami lanjutkan menuju kawasan agrowisata kebun teh Nglinggo, sekitar 15 menit dari Puncak Suroloyo. Mungkin bagi sebagian orang tidak menyangka jika Yogyakarta juga memiliki kawasan perkebunan teh, promosi bicara lagi bukan? Akses jalan yang mudah, udara pegunungan yang segar, ditambah lagi pemandangan hamparan perbukitan menoreh menamani kami sepanjang jalan. Akhir tahun lalu, Bupati Kulonprogo bersama Sri Sultan meluncurkan produk teh cap Suroloyo yang dipetik langsung dari kebun teh ini. 

Behind the scene: menikmati tea walk di kawasaan agrowisata kebun teh Nglinggo, Samigaluh
Masih di Samigaluh. Kali ini kami bergerak menuju air terjun Sidoharjo, dengan ketinggian 75 meter dan kemiringan hampir 90 derajat membuat air terjun Sidoharjo sebagai air terjun tertinggi di Kulonprogo. Masih belum banyak terjamah oleh pengelola, retribusi masuk air terjun pun belum ada. Pengunjung air terjun hanya ditarik retribusi parkir kendaraan di sebuah pelataran rumah warga. Kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak sekitar 500 meter dari tempat parkir. Karena masih dikelola oleh warga, akses menuju air terjun dibilang masih cukup sulit, hanya pagar-pagar sederhana dari bambu di pinggir sepanjang jalan setapak. Beruntung kami datang saat musim hujan, debit air melimpah. Kulonprogo bagian utara memang dikenal sebagai daerah dataran tinggi yang terdapat banyak air terjun. Air terjun Sidoharjo, Kembang Soka, Grojogan Sewu, Watu Jonggol, dan masih banyak air terjun lain tersebar mulai dari Girimulyo, Kalibawang, sampai Samigaluh. Potensi yang luar biasa bukan? Sayang sekali jika tidak dikenalkan.

Behind the scene: Bermain air di airt terjun Sidoharjo, Samigaluh. Masih sepi.

Turun gunung di hari kedua
Hari kedua kami mulai dengan berdesak-desakan berbaur bersama mayoritas ibu-ibu di Pasar Wates. Jangan salah, arti pariwisata tidak sesempit sekedar berjalan-jalan di tepi pantai ataupun menikmati pemandangan pegunungan. Berinteraksi dengan warga lokal, berbaur dengan kegiatan mereka, mengenal keramahan mereka juga merupakan daya tarik pariwisata tersendiri. Do what local does. Seperti yang telah saya tulis pada pembuka tulisan ini, Indonesia diberkahi komponen pariwisata yang lengkap, bukan hanya nature (alam), namun juga people (keramahan warga). Hal inilah yang coba kami sampaikan lewat video bagaimana keramahan warga lokal juga menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke suatu tempat.

"wah aku difoto, gelo bu aku arep difoto karo mas-mase" (Wah saya difoto, tuh bu aku mau difoto sama mas-masnya). Sambil tertawa khas masyarakat lokal ungkap salah satu ibu penjual jajanan yang kami temui di Pasar Wates. Berinteraksi dengan masyarakat sekitar saat proses take video. So great moment.
Kami ke selatan lagi, kali ini ke ujung selatan Kulonprogo. Pantai Glagah Indah menjadi tujuan kami berikutnya. Sebagai salah satu ikon wisata Kulonprogo, Pantai Glagah Indah adalah tempat wisata yang paling ramai dikunjungi. Sebenarnya ada pantai-pantai lain di sepanjang pesisir selatan Kulonprogo. Dibangunnya Sea Wall atau pemecah ombak di sala satu bibir Pantai Glagah menjadi daya tarik tersendiri bagi pantai ini. Langit biru sepanjang mata memandang, deburan ombak yang terpecah bebatuan, menemani kami proses take video.

Jarang ditemukan di pantai lain, spot pemecah ombak di Pantai Glagah sering menjadi obyek foto yang menarik bagi wisatawan. Ayo berkunjung, Glagah menantimu.
Sedikit ke utara. Kami menuju kawasan Waduk Sermo di Kecamatan Kokap. Waduk yang disebut sebagai waduk dengan pengelolaan air terbaik di Indonesia ini menjadi tujuan terakhir kami dalam pembuatan video promosi pariwisata Kulonprogo di hari kedua. Sebenarnya kami menjadwalkan 3 hari untuk take video. Namun cuaca yang tidak memungkinkan memaksa kami menunda hari terakhir, proses editing video pun masih dalam proses, jika sudah siap tayang dengan senang hati kami akan kami tampilkan di Youtube. Can't wait!

Dermaga wisata di Waduk Sermo
Berkaca dari pariwisata Thailand
Sebuah video promosi unik dirilis oleh Tourism Authority of Thailand (TAT) akhir tahun 2014 lalu untuk mempromosikan pariwisata Thailand. "I Hate Thailand", begitulah judul video itu. Bagi orang yang pertama kali menonton video itu, barangkali tidak menyangka bahwa video itu adalah bentuk promosi. Video bercerita tentang James, seorang wisatawan asing yang baru pertama kali berlibur di Thailand. Ia geram tasnya yang berisi uangnya telah dicuri. Ia hanya menyisakan beberapa uang koin."This is James, and this is my first time in Thailand. I hate this place, I hate Thailand!", ungkap James dalam video itu.

Sampai akhirnya James bertemu dengan Nancy, seorang gadis Thailand. Nancy banyak membantu James, mulai dari membelikan minuman, meminjamkan charger ponsel, hingga mengajaknya untuk menginap di rumah warga lokal tanpa membayar. Ia memperkenalkan James kepada masyarakat dan beragam keramahan orang Thailand. Sampai pada akhirnya, tas James ditemukan. Tas tersebut ternyata dicuri oleh seekor monyet.

"I once said I hated Thailand, but that's because I didn't know Thailand well enough," kata James pada akhir video. Atas keramahan warga lokal kepadanya, James memutuskan untuk tinggal di Thailand. Sampai hari ini video tersebut telah ditonton oleh 2,6 juta di situs Youtube. Sebuah bentuk promosi yang unik dan menggebrak bukan?



Video Voluntourism: Strategi baru pariwisata Indonesia
Konsep promosi dengan video memang sudah dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Pariwisata, video tersebut biasanya bersifat umum karena menggambarkan pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Melalui tulisan ini saya juga ingin menyampaikan usulan strategi pengembangan pariwisata Indonesia melalui konsep Video Voluntourism terlebih untuk pariwisata lokal.

Memang saya tidak mengelak jika tidak setiap orang memiliki kemampuan dalam hal videografi. Disinilah peran aktif pemerintah, komunitas videografi, maupun para videografer dibutuhkan. Saya pikir pendidikan dan pelatihan mengenai hal-hal mengenai videografi sangat potensial di masa yang akan datang jika dikembangkan, terlebih bagi anak-anak muda yang sedang tinggi-tingginya berkreasi. Tak perlu muluk-muluk video yang dibuat harus layaknya buatan profesional. Sesederhana apapun video promosi yang dibuat asalkan pesan di dalamnya sampai kepada penonton hal itu bukanlah masalah. Prinsipnya, memperlihatkan kepada orang-orang tentang potensi wisata yang daerah kita punya, lalu ajak mereka datang. Sederhana.

Tidak menutup kemungkinan, pemerintah/komunitas bisa saja membungkus konsep ini melalui sebuah sayembara video promosi pariwisata. Dengan demikian, akan memancing para videografer untuk membuat karya sebaik-baiknya untuk mempromosikan masing-masing potensi pariwisata daerahnya. Beberapa daerah memang pernah mengadakan kompetisi semacam ini, namun akan menjadi sangat bagus apabila tiap daerah mengadakan kompetisi video promosi pariwisata. Tentu mencari juara bukanlah sasaran utama, melainkan partisipasi masyarakat untuk lebih berani mempromosikan potensi pariwisata lokalnya adalah hal yang perlu diwujudkan.  Melalui video volutourism saya yakin akan banyak karya-karya yang terkumpul dengan konsep video yang berbeda-beda, tidak menutup kemungkinan akan muncul video promosi yang unik dan menggebrak pariwisata Indonesia umumnya dan pariwisata lokal pada khususnya. Jadi, promosi wisata lewat video, kenapa tidak? Mari berdiskusi tentang konsep voluntourism demi pariwisata Indonesia yang lebih maju.

Referensi
Voluntourism, I Hate Thailand

*Artikel ini diikutsertakan dalam Voluntourism Writing Competition yang didakan oleh Traveller Kaskus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya