Kamis, 24 Maret 2016

Hiruk Pikuk Kereta Api Kulonprogo

Kulonprogo, "Kota Kecil" itu layaknya gerbang menuju pusat peradaban, sebagai jalur menuju Yogyakarta dari arah barat, menyimpan banyak cerita dari zaman Hindia Belanda hingga sekarang.
Dunia kereta api di negeri ini memang punya cerita perjalanan sendiri terlampau jauh sebelum negeri ini berdiri. Perannya tak perlu dibantah lagi, sebagai moda transportasi massal, kereta api menjadi andalan transportasi darat. Mengangkut hasil bumi, memudahkan mobilisasi tentara, hingga sekedar membawa pulang para pedagang ke desa setelah mencari penghidupan dari kota.

Saya mencoba menelusuri jalur besi sepanjang 25 kilometer itu, salah satu jalur tersibuk di pulau Jawa dengan kurang lebih 50 kereta api setiap hari yang melintas. Sebagai pintu masuk menuju Yogyakarta melalui arah barat, saya mengawali penelusuran di stasiun Kedundang, sembilan kilometer dari stasiun Wojo di Purworejo.

Cat dinding perpaduan warna biru dan putih khas bangunan stasiun kereta api itu sudah pudar. Goresan pilok coretan tangan manusia menempel di mana-mana. Setidaknya bangunan itu masih mampu menjadi tempat saya berteduh dari hujan siang hari itu, Jumat (11/3). Walaupun akhirnya air mampu menerobos ke dalam ruangan melalui atap yang gentengnya lepas tak tahu sudah kemana. Tepat di depan bangunan itu terdapat papan kayu bertuliskan “Yogyakarta”. Stasiun Kedundang di desa Kulur, kecamatan Temon, kabupaten Kulonprogo ini adalah stasiun yang terletak di paling ujung barat provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Melewati beberapa kilometer saja ke arah barat, penumpang sudah berada di wilayah Purworejo, Jawa Tengah.

Stasiun ini tak kuasa menyambut selesainya proyek pembangunan rel ganda yang melewati jalur selatan pada tahun 2007 silam. Karena sepinya penumpang yang berangkat dan turun melalui stasiun ini, maka ditutuplah Kedundang, tepatnya pada 21 Juli 2007. Relatif belum lama dinonaktifkan, ruangan loket tiket, ruang tunggu penumpang, hingga ruang kepala stasiun masih bisa saya kenali. Tentu dengan kondisi yang memprihatinkan. Stasiun Kedundang diperkirakan dibangun pada kurun waktu 1876-1877, bersamaan dengan pembangunan jalur Yogyakarta-Maos-Cilacap oleh Staats-spoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda

Peta jalur kereta api Kulonprogo

Setelah menanyakan informasi tentang siapa petugas yang dulunya bekerja di Kedundang kepada warga sekitar stasiun, saya diantar seorang warga yang tinggal tepat di belakang Kedundang untuk menemui Kasbi (58), seorang mantan banskower yang bertugas di Kedundang. Banskower adalah sebutan petugas yang bertugas mengecek rel kereta api. Kasbi bekerja sebagai banskower sejak 1983, ia masih begitu ingat ketika menelusuri panjangnya rel dan melapor ke kantor di stasiun Kedundang. "Aktivitasnya dulu lumayan ramai," tuturnya.

Kasbi mempertemukan saya dengan Jayan (64), warga Kulur yang merupakan petugas penjaga perlintasan di Kedundang. Kebetulan ia sedang sibuk mencari rumput untuk makan ternak di seberang Kedundang, tempat di mana Jayan bekerja hingga masa pensiunnya. Jayan telah ditempatkan di Kedundang sejak tahun 1991, yang mana ia sebelumnya bekerja di stasiun Wates. Berakhirnya aktivitas di Kedundang pada 2007 bersamaan juga dengan pensiun Jayan di dunia perkeretaapian.


"Stasiun ini dulu lumayan ramai, selain kereta penumpang, kereta gerobak sering berhenti di sini," ujarnya dalam bahasa Jawa halus. Kereta gerobak adalah sebutannya kepada kereta yang mengangkut pupuk. "Kalau yang di sana itu bangunan apa, Pak?" tanya saya sembari menunjuk sebuah bangunan tua yang hampir rata dengan tanah. "Itu dulunya kantor stasiun, sengaja dibumihanguskan oleh pejuang pribumi untuk melawan Belanda," jawab Jayan dengan begitu meyakinkan. Bangunan itu kini masih berdiri semampunya, makin lapuk dimakan usia, berhadapan persis di seberang Kedundang.

Setelah ditutup, Kedundang ditinggalkan begitu saja dan kini tak terawat. Bersama dua rumah dinas kepala stasiun sebelah timur stasiun ini pun tak luput dari kesan angker. Di usia senjanya, sesekali Jayan menyempatkan diri untuk membersihkan sendiri tempat di mana ia bekerja dulu itu. Tanpa dibayar. Kini, dengan adanya rencana PT. Angkasa Pura membangun bandara internasional di Temon, Kulonprogo di mana akan terintegrasi jalur kereta api membuat asa hiruk pikuk Kedundang untuk hidup lagi akan diwujudkan beberapa tahun ke depan. Terlepas dari keadaan Kedundang sekarang yang memprihantikan, setidaknya akan ada yang merawat bangunan bernilai sejarah ini.

"Tidak ada yang merawat, karena saya yang pernah bekerja di sana, sesekali saya sempatkan membersihkannya"
Jayan (Mantan petugas stasiun Kedundang)

Bergerak terus ke arah timur menyusuri panjangnya besi rel, di antara stasiun Wates  (satu-satunya stasiun di Kulonprogo yang masih aktif menaikturunkan penumpang) dan stasiun Sentolo yang sudah juga tidak digunakan lagi untuk keberangkatan dan kedatangan, berdiri stasiun Kalimenur yang mempunyai cerita yang lebih panjang lagi. Sebenarnya terdapat satu bangunan stasiun kecil di antara Kedundang dan stasiun Wates, yakni halte Pakualaman. Agresi militer II Belanda pada 1949 membuat Pakualaman rata dengan tanah dan kini letaknya pun tak diketahui lagi.  

Sementara itu stasiun Kalimenur atau sebagian orang menyebutnya halte Kalimenur di kecamatan Sentolo sudah tidak beroperasi sejak 1974. Ruangannya beralaskan tanah. Cat tembok mengelupas terpisah dari dindingnya. Bahkan atapnya melapuk dan ditumbuhi rerumputan ilalang. 

  


Tepat di sebelah selatan stasiun Kalimenur, di sebuah rumah dinas milik PT. Kereta Api Indonesia, tinggallah Bambang Sumitro (77) bersama anak dan cucunya. Ia adalah mantan petugas yang dulu bekerja di Stasiun Kalimenur ketika stasiun ini masih aktif menaikkan dan menurunkan penumpang. Bermaksud untuk menggali cerita yang lebih dalam mengenai sepak terjang Kalimenur, niat saya harus saya tanggalkan ketika mengetahui  informasi bahwa beliau sedang sakit. “Bapak sedang sakit, yang jelas sejak saya lahir stasiun ini sudah mati,” ungkap anak laki-laki beliau. Pada 1948, Kalimenur tidak luput dari serangan bom Belanda. Beruntung, bangunan stasiun dan rumah kepala stasiun yang kini ditinggali Bambang masih dapat diselamatkan.


Kalimenur terletak di tikungan yang terkenal dengan liukan gerbong kereta yang eksotis, hanya 200 meter dari jalan nasional Yogyakarta-Purworejo. Karena berada di jalur tikungan dengan kecepatan tinggi, Kalimenur tidak lagi disinggahi kereta. Kereta uap atau yang masyarakat setempat sebut sepur bumel adalah kereta yang dulu sering singgah untuk menaik turunkan penumpang di Kalimenur. Sebelum ditutup, masyarakat Kulonprogo banyak menggantungkan hidupnya pada Kalimenur. Berdasarkan observasi Hari Kurniawan dalam Javaneshe Spoorwegen Observeur (2013), masyarakat sekitar Kalimenur menyebut stasiun ini sebagai stasiun tahu. Sebagian besar penumpang adalah pedagang tahu yang akan menuju kota Yogyakarta. Kini liukan gerbong demi gerbong kereta api hanya melewatinya begitu saja, tidak pernah lagi berhenti untuk sekedar menyapa.
  
Ke timur lagi, di ujung Kulonprogo, stasiun Sentolo menjadi stasiun terakhir sebelum gerbong kereta menyeberangi sungai Progo, batas wilayah antara Kulonprogo dan Bantul. Kendati sudah tidak menjadi tempat pemberhentian kereta penumpang, stasiun Sentolo masih menjadi tempat pengatur lintasan rel kereta api

Saksi bisu sejarah
Dinding-dinding lapuk nan kotor baik di Kedundang maupun Kalimenur adalah saksi bisu sejarah panjang dan kompleksnya  perkeretaapian Yogyakarta maupun Kulonprogo. Cerita-cerita panjang tentang sejarah dan riwayat perkeretaapian hanya tersampaikan dari mulut ke mulut, berdasarkan ingatan masyarakat yang pernah bersinggungan dengan kereta api. Di sisi lain, arsip-arsip sejarah perkeretaapian Kulonprogo pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, belum juga tertata dengan baik. Masih banyak cerita yang masih menjadi misteri karena tidak adanya sumber data yang terdokumentasikan dengan baik. Lantas saya bertanya, bagaimana jika orang-orang seperti Kasbi, Jayan, maupun Bambang ini sudah tiada? Mungkinkah kita bertanya pada puing-puing bangunan? 


Infografis/ Yusuf Harfi

Sumber referensi: 
Javaneshe Spoorwegen Observeur, Hari Kurniawan (2013)
- www.heritage.kereta-api.co.id 
- maps.google.co.id
- observasi lapangan & dokumen pribadi

8 komentar:

  1. semoga sentolo gak bernasib sama dengan dua stasiun yang telah non aktif. Semoga dengan adanya bandara transportasi kereta bisa menyentuh lebih banyak untuk digunakan sebagai angkutan umum jarak dekat maupun jauh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat disayangkan sekali kalau sentolo senasib dengan kalimenur ataupun kedundang, aset berharga yg sayang sekali ditelantarkan begitu saja

      Hapus
  2. Akhir dari kenikmatan riset adalah menuangkannya di microsoft word. Kamu dah nyoba dan bagus lik. Semoga kanca kanca tak enggan menggali sejarahnya sendiri. Salam dari Watespahpoh bro. Kapan nulis lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suwun mas bro. Masih perlu belajar banyak sama njenengan. Hehe.

      Hapus
  3. Artikelnya sangat menarik, saya ijin share ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan, semoga manfaat

      Hapus
    2. Cerita sejarah tentang Kereta Api di Indonesia baik masa lalu, sekarang atau yang akan datang selalu menarik.. sayang sudah banyak ditinggalkan. semoga bangkit lagi. teruslah menulis sejarah KA mas @Yusuf Harfi..

      Hapus
  4. semoga segera menjadi jalur yg menunjang wisata borobudur, dihidupkan semua

    BalasHapus

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya