Selasa, 21 Juli 2015

Idul Fitri, Mudik, dan Perekonomian Indonesia


Sudah bukan rahasia lagi, momen Hari Raya Idul Firi menjadi momentum tahunan yang ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Idul Fitri selalu disambut meriah dan penuh suka cita, bahkan bagi masyarakat non-muslim yang juga larut dalam suka cita setelah satu bulan lamanya berpuasa di bulan Ramadhan.

Sejak malam takbiran, kemeriahan sudah tumpah ruah. Di masjid, langgar, hingga jalanan, alunan takbir diiringi bunyi bedug khas masyarakat Indonesia mengubah suasana malam menjadi penuh rasa bahagia, mengajak siapa saja yang mendengarnya untuk melupakan sejenak segala urusan dunia, bersyukur kepada Tuhan akan nikmatnya yang begitu banyak datangnya. 

Kemeriahan Idul Fitri setiap tahunnya di Indonesia tidak lepas dari tradisi yang melekat di masyarakat. Mudik ke kampung halaman, memberikan hadiah lebaran, dan mengunjungi kerabat dan serta sanak saudara adalah tradisi yang begitu melekat dan menambah kemeriahan Idul Fitri di Indonesia yang mengundang kekaguman negara-negara lain yang juga merayakan Idul Fitri. Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Al Mehdawi salah satunya. Bertugas dan harus menetap di Indonesia membuat beliau ikut merasakan kemeriahan perayaan Idul Fitri di negara ini. "Tradisi Idul Fitri di Indonesia yang saya kagumi, mudik, memberikan hadiah, dan open house. Saya berharap tradisi ini bisa diterapkan di Palestina," katanya.

Momen Spiritual Spektakuler dan Penggerak Roda Ekonomi
Sebagai hari besar keagamaan terbesar selain Idul Adha dan Natal, Idul Fitri juga menjadi momentum masyarakat untuk kembali pulang ke kampung halaman masing-masing. Cuti bersama yang ditetapkan pemerintah selama enam hari benar-benar dimanfaatkan untuk menemui kerabat, tak kenal sejauh atau sedekat apapun itu, jutaan masyarakat Indonesia tumpah ruah di jalanan. Puluhan juta. Tahun ini Kementerian Perhubungan memprediksi ada sekitar 20 juta pemudik eksodus melakukan perjalanan pada musim lebaran ini. Angka yang spektakuler, hampir menyamai seluruh penduduk Malaysia. Melakukan perjalanan dalam waktu yang relatif sama, tradisi mudik di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Jalanan begitu ramai, stasiun kereta api, bandar udara, hingga pelabuhan juga demikian. Saya sendiri sempat beberapa kali merasakannya.

                                                                                                                                                            radaronline.co.id
Bukan tanpa tujuan, tradisi mudik membawa sesuatu yang positif bagi masyarakat, terlepas dari permasalahan infrastruktur yang acap kali menghambat di perjalanan. Momen spiritual mudik mengajak kita untuk kembali ke asal, bertemu sanak saudara, kita diingatkan untuk selalu ingat asal kejadian kita sejak lahir, tempat dimana kita dibesarkan orangtua. Setelah beberapa bulan lamanya harus merantau ke tempat mencari rezeki, dengan momen mudik kita kembali. Bukan untuk pamer harta hasil keringat di kota, namun untuk berterimakasih kepada yang membesarkan kita, kepada orang-orang terdekat kita, kepada masyarakat sekitar, maka berkembanglah tradisi sungkeman dan saling mengunjungi rumah kerabat. Bercakap-cakap ria, atau sekedar meminta permohonan maaf atas segala khilaf yang telah dilakukan.

Selain mendatangkan pengalaman spiritual yang baik, tradisi lebaran di Indonesia juga mendatangkan hal yang positif jika dilihat dari sisi ekonomi. Dengan begitu banyaknya masyarakat yang melakukan perjalanan dari kota ke desa, roda perekonomian masyarakat membaik. Dana ratusan triliun rupiah mengalir dari desa ke kota sepanjang tradisi mudik dan lebaran di Indonesia. Dana tersebut berwujud zakat, tunjangan hari raya, salam tempel, kebutuhan operasional selama perjalanan ke kampung halaman, hingga kebutuhan berwisata selama di kota asal. Perputaran uang yang biasanya hanya berada di perkotaan yang menjadi pusat pertumbuhan kini dapat mengalir hingga ke desa-desa yang dilalui pemudik atau tujuan pemudik.

Hal tersebut begitu terlihat dii tempat tinggal saya, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya seminggu sebelum Idul Fitri hingga seminggu sesudahnya. Jalanan yang biasanya lengang kini ramai dengan plat kendaraan luar kota milik pemudik. Jika siang hari dimanfaatkan untuk mengunjungi sanak saudara, maka pada malam hari kebanyakan dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, melihat-lihat suasana kota, hingga yang sudah seperti menjadi kewajiban ialah mampir di warung makan menyantap makanan khas daerah. Disini, di musim lebaran warung-warung makanan lesehan khas Jogja terpaksa harus menyiapkan tikar lebih dari biasanya. Pelanggan yang datang bisa meningkat dua kali lipat, bahkan tiga. Disini, bakmi Jawa menjadi salah satu kuliner yang paling diburu ketika malam tiba. Tentu menjadi berkah tersendiri bagi pedagang-pedagang bukan? Belum lagi ketika para pemudik menyempatkan mengunjungi tempat-tempat wisata selama di kota tujuan. Bukan hanya pengelola tempat wisata yang mendapat banjir berkah dengan meningkatnya angka kunjungan, tapi para pedagang kecil dan warung-warung makan di sekitar tempat wisata tentu juga mendapatkan berkah serupa. Dampak ekonomi yang luar biasa.

Sekali lagi terlepas dari segala permasalahan yang masih sedikit banyak menghambat tradisi tahunan ini, momentum Idul Fitri adalah tradisi yang spektakuler di Indonesia. Yang membedakan negara ini dengan negara-negara lain di dunia. Tidak lupa saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah, kepada seluruh masyarakat dunia dan Indonesia pada khususnya, yang sedang berada di kampung halaman, ataupun yang sedang dalam perjalanan pulang. Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

You are what you write! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari bergabung bersama kami membudayakan berkomentar baik di internet. Jika tulisan diatas bermanfaat, sampaikan pada teman anda. Jika tidak, sampaikan pada saya